LUNTURNYA IDENTITAS INTELEKTUAL MAHASISWA
Oleh : Agus Hariyanto (Ketua Umum HMI Cabang Pacitan 2007/2008)

Sebuah pertanyaan untuk mengawali tulisan ini, masih pantaskah mahasiswa menyandang identitas kaum intelektual? Anda semua yang bisa menjawabnya secara obyektif, karena kepada andalah pertanyaan itu ditujukan.

Realitas sosial dan kebudayaan sekarang ini memamerkan otoritas kehidupan materialistis sebagai bentuk expansi budaya konsumerisme globalisasi. Tatanan nilai orisinalitas budaya nenek moyang dan nilai – nilai agama kian hari kian luntur tergerus budaya barat yang menawarkan glamourisme serta ideology pragmatis yang cenderung instan. Expansi westernisasi budaya ini bukan hanya mempengaruhi wacana dogmatis saja tetapi lebih dalam lagi masuk kedalam cara pandang dan nurani keagamaan kmunitas.
Hegemoni globalisasi yang begitu kuat membuat hampir semua perilaku dan cara berpikir yang materialistic dimana semuanya seakan ditentukan oleh kapital. Agama yang seharusnya menjadi benteng kokoh untuk menyaring pengaruh seakan tak mampu lagi menunjukkan kekuatan filterisasinya. Budaya barat yang dipertontonkan dan didengungkan setiap saat melalui media massa begitu kuat mencengkeram pikiran – pikiran bawah sadar kita. Hal ini semakin jelas dampaknya ketika perilaku kebudayaan kita sudah meniru apa yang kita lihat dan sudah merasuki akal sehat kita.
Fenomena globalisasi yang mengusung kebudayaan barat ini telah menjadi mainstream dan membentuk sub – sub budaya baru. Globalisasi telah mendorong pembentukan definisi baru tentang berbagai praktek kehidupan yang membuat semangat identitas kebudayaan dimasyarakat menjadi kabur atau bahkan hilang. Secara tidak langsung kita dihadapkan pada sikap vis a vis terhadap globalisasi, bagaimana tidak globalisasi seakan tak terbendung lagi dalam melunturkan kultur – kultur lokal. Lantas bagaimana kita harus menghadapi kondisi sepeti ini?


Saya mencoba memposisikan diri saya sebagai aktivis organisasi kemahasiswaan dimana saya menilai bahwa mahasiswa sekarang ini sudah mulai kehilangan ghiroh maupun substansi dari arti dari mahasiswa itu sendiri. Bagaimana tidak, pergeseran peran mahasiswa yang terkenal sebagai avant garde perubahan, agent of social control yang melekat sebagai identitas murni mahasiswa beralih menuju komunitas – komunitas komsumerisme. Mahasiswa yang seharusnya menjadi kelompok pemikir intelektual (think tank) berubah menjadi kaum yang eksklusif yang terlalu bangga dengan status bukan pada nilai (Values).
Kini para mahasiswa lebih bangga menenteng HP model terkini maupun merasa lebih gaul dan percaya diri seperti layaknya fashion show. Budaya – budaya intelektual layaknya seminar, bedah buku seperti tidak menarik dan kalah aktual dengan tangga lagu minggu ini di MTV, perpustakaan tergantikan dengan gemerlap twenty one. Bukan hanya itu ketoprak, sego pecel seakan terasa pahit dan lebih menggandrungi Mc Donald atau KFC. Toko – took buku menjadi sepi karena pengunjung setianya lebih memilih café dan mall – mall yang memang lebih asyik untuk nongkrong.